Kolaborasi untuk Pemulihan: Catatan Distribusi Mikro SHS ke Wilayah Pascabanjir Aceh
- Solar Chapter
- 6 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Oleh: Riski Maulana
Pada November 2025, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera selama lima hari empat malam tanpa henti. Curah hujan yang terus meningkat memicu banjir bandang di beberapa kawasan Kabupaten Aceh Tamiang, termasuk wilayah Kecamatan Sekerak, bandar pusaka dan sekitarnya. Lumpur, sedimen, dan material kayu terbawa arus deras yang menerjang permukiman, fasilitas umum, hingga akses jalan antarwilayah.
Kondisi tersebut tidak langsung diketahui secara luas. Putusnya akses jalan, terganggunya jaringan komunikasi, serta terisolasinya sejumlah desa membuat informasi mengenai dampak bencana baru mulai tersebar beberapa hari kemudian. Selama masa itu, masyarakat bertahan dengan segala keterbatasan yang ada sambil berupaya memulihkan kondisi di lingkungan mereka masing-masing.
Bagi masyarakat yang mengalaminya, bencana bukan hanya tentang kerusakan fisik. Bencana berarti rumah yang dipenuhi lumpur, fasilitas umum yang tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, serta berbagai aktivitas sehari-hari yang harus dijalani dalam kondisi serba terbatas.


Beberapa bulan setelah banjir terjadi, saya, Riski Maulana, selaku Technical Support Officer Solar Chapter, berkesempatan bergabung bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Forum Konservasi Leuser (FKL), dan ViriyaENB pada Program CARE (Community Action for Resilient Energy) dalam upaya pemulihan yang sedang berlangsung di masyarakat. Melalui distribusi perangkat lampu energi surya Mobiya dan pemasangan Micro Solar Home System (M-SHS), kami berupaya menghadirkan akses energi yang dapat mendukung aktivitas masyarakat pascabencana.
Hari Pertama: Desa Sekumur
Perjalanan hari pertama membawa kami menuju Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.

Tim berangkat dari Kantor Regional FKL di Langsa pada pukul 10.42 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 15.23 WIB. Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu lebih singkat menjadi lebih lama karena beberapa ruas jalan masih menyisakan dampak banjir yang terjadi sebelumnya. Meski demikian, seluruh tim tetap bergerak karena bagaimana pun kami harus segera tiba di lokasi.
Setibanya di Sekumur, kami langsung memulai pemasangan perangkat M-SHS pada fasilitas umum yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Setiap anggota tim mengambil peran masing-masing agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan pada hari yang sama.
Menjelang sore, sistem yang dipasang mulai dapat digunakan. Area yang sebelumnya minim penerangan kini telah memperoleh sumber energi yang dapat mendukung berbagai aktivitas masyarakat.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika akhirnya adzan Ashar pertama kali dikumandangkan Setelah sekitar hampir 1 bulan adzan dikumandangkan dengan bantuan ginset menggunakan listrik dari sistem yang baru terpasang. Adzan tersebut dikumandangkan oleh Kepala Dusun Sekumur M. Qari hingga akhirnya masyarakat datang berkumpul untuk shalat berjamaah. "Memasuki waktu Magrib, pengeras suara masjid kembali digunakan untuk mengumandangkan adzan. Setelah itu, anak-anak Desa Sekumur mengikuti kegiatan pengajian di Masjid Baital Makmur dengan dukungan listrik dari sistem Micro Solar Home System (M-SHS) serta penerangan yang telah dipasang oleh tim."

Pada saat yang sama, team berbincang dengan pengurus Masjid Baital Makmur bersama Sekretaris Desa dan perwakilan pemuda desa mengenai cara pengoperasian serta perawatan Micro Solar Home System (M-SHS). Mereka menceritakan bahwa sejak banjir melanda, pasokan listrik di Desa Sekumur lumpuh total. Selama itu pula, masyarakat hanya mengandalkan generator sebagai sumber penerangan. Namun, tingginya harga BBM serta sulitnya distribusi bahan bakar akibat akses menuju desa yang masih menantang membuat generator tidak dapat dioperasikan secara terus-menerus. Kehadiran sistem M-SHS kemudian menjadi sumber listrik utama yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan di Masjid Baital Makmur menjelang bulan suci Ramadan. Warga menyampaikan rasa syukur karena masjid kembali memiliki penerangan yang dapat digunakan setiap hari tanpa bergantung pada Generator.
Suasana saat itu terasa sederhana, tetapi bermakna. Kami melihat secara langsung bagaimana akses energi dapat mendukung aktivitas yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Malam itu kami juga melaksanakan salat berjamaah di bawah penerangan dari sistem yang baru dipasang. Setelah seluruh pekerjaan selesai, masyarakat mengundang tim untuk menikmati hidangan bersama sebelum kami melanjutkan agenda berikutnya.
Di tengah kondisi yang masih dalam proses pemulihan, sambutan hangat dari masyarakat menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kami melihat bagaimana masyarakat tetap menjaga semangat kebersamaan, berbagi, dan saling menguatkan di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.
Hari Kedua: Menuju Rantau Panjang dan Sarah Raja
Hari kedua dimulai dengan perjalanan menuju Desa Rantau Panjang, Judo, dan Sarah Raja di Kabupaten Aceh Timur.
Perjalanan dimulai pada pukul 10.52 WIB. Sejak awal, tim telah mengetahui bahwa medan yang akan dilalui cukup menantang karena kondisi jalan yang belum sepenuhnya pulih dan akses menuju beberapa lokasi masih terbatas.

Lokasi pertama baru dapat dicapai sekitar pukul 19.40 WIB. Setibanya di lokasi, tim langsung membagi tugas agar pekerjaan dapat berjalan lebih efektif. Sebagian anggota tim melakukan instalasi perangkat, sementara anggota lainnya melakukan sosialisasi mengenai penggunaan dan perawatan sistem kepada masyarakat.
Hampir tiga jam pekerjaan dilakukan sebelum rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Sarah Raja pada pukul 21.16 WIB.

Perjalanan menuju lokasi berikutnya menjadi tantangan tersendiri. Kondisi jalan yang cukup berat membuat salah satu kendaraan dokumentasi tidak dapat melanjutkan perjalanan saat melintasi jalur dari Dusun Rantau Panjang menuju Sarah Raja. Kendaraan tersebut akhirnya ditinggalkan sementara di tepi jalan yang berada di kawasan hutan agar rombongan dapat tetap melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya seluruh personel berpindah ke kendaraan lain yang masih memungkinkan untuk melewati medan tersebut. Perjalanan berlangsung cukup lambat karena kondisi jalan yang gelap dan tidak seluruh ruas dapat dilalui dengan mudah.
Sekitar pukul 23.38 WIB kami akhirnya tiba di Sarah Raja.

Karena waktu sudah cukup larut, tim memutuskan untuk melakukan penempatan perangkat dan sosialisasi awal kepada masyarakat. Instalasi penuh dijadwalkan kembali pada kesempatan berikutnya agar dapat dilakukan dengan lebih aman dan optimal.
Baru pada pukul 02.16 WIB dini hari seluruh tim kembali tiba di Kota Langsa.
Perjalanan hari itu memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat secara langsung bagaimana proses pemulihan pasca bencana berlangsung. Saya melihat bagaimana berbagai pihak mengambil peran masing-masing, mulai dari masyarakat, organisasi lokal, mitra kolaborasi, hingga relawan lapangan. Setiap pihak memiliki kontribusi yang berbeda, namun semuanya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak.
Melalui program ini, Solar Chapter bersama para mitra telah menyalurkan hampir 4.000 unit lampu tenaga surya portabel Mobiya kepada keluarga terdampak serta memasang 49 unit Micro Solar Home System pada berbagai fasilitas umum di wilayah terdampak.
Bagi saya, perjalanan ini bukan hanya tentang distribusi perangkat energi. Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana masyarakat tetap menjalankan kehidupan sehari-hari, menjaga kebersamaan, dan terus melangkah meskipun menghadapi berbagai tantangan setelah bencana.
Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, semangat kolaborasi dan gotong royong menjadi bagian penting dari proses pemulihan yang berlangsung di lapangan.
"Di tengah situasi pascabencana, saya belajar bahwa proses pemulihan tidak pernah berjalan sendiri. Ia tumbuh melalui kolaborasi, kebersamaan, dan kepedulian banyak pihak yang hadir serta mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing."







Komentar