Mengalir.co: Wadah Kolaborasi Multipihak untuk Penguatan Data Air Bersih di NTT pada OGWeek 2026
- Solar Chapter
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Sebagai bagian dari pelaksanaan Komitmen Rencana Aksi Nasional (RAN) OGI VIII, Solar Chapter bersama Wahana Visi Indonesia turut mengambil peran dengan menyelenggarakan diskusi kolaboratif pada 18 Mei 2026 bertajuk “Dari Data ke Aksi: Memperkuat Layanan Air Bersih Desa melalui Kolaborasi Multipihak.” Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Open Gov Week 2026 yang diselenggarakan oleh Open Government Indonesia (Seknas OGI), yang merupakan perwakilan Pemerintah Indonesia dalam organisasi internasional Open Government Partnership (OGP).
Diskusi ini menghadirkan panelis dari berbagai institusi dengan perspektif yang beragam, mulai dari tingkat global, nasional, hingga daerah, yakni Dr. Nanang Somantri, S.Sos, M.Si dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Irma Magdalena Setiono, MSc dari World Bank Indonesia, serta Wildan, MD, MPH dari Tim Akselerasi Program Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sebagai pemantik diskusi, Mustika Wijaya selaku Founder dan Executive Director Solar Chapter memaparkan hasil temuan dari Mengalir.co bahwa dari 764 desa yang berhasil dikumpulkan data akses air bersihnya dengan metode partisipatif, 68,1% desa memiliki sistem air yang masih berjalan, namun 22,5% sudah tidak berfungsi, dan 9,3% belum memiliki sistem air. Ada juga 172 desa yang memiliki infrastruktur air tetapi tidak lagi beroperasi, menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya membangun, tetapi menjaga sistem tetap berjalan.
Contohnya terlihat di Desa Compang Pacar, Manggarai Barat, di mana 793 keluarga masih belum memiliki akses air layak. Warga masih harus berjalan 1–2 jam untuk mengambil air, dan saat musim kemarau biaya air bisa mencapai Rp540.000 per 5.000 liter. Kondisi ini menunjukkan bahwa air bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal waktu, biaya dan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai tanggapan dari temuan tersebut, Dr. Nanang menekankan bahwa banyak sistem air tidak bertahan karena lemahnya kelembagaan di tingkat desa. Ia menegaskan pentingnya komite air dan BUMDes agar sistem bisa berjalan jangka panjang, bukan hanya selesai dibangun. Sementara itu, Irma dari World Bank menyoroti pentingnya data yang selalu diperbarui agar kebijakan dan investasi tidak salah sasaran. Ia menyampaikan bahwa banyak program gagal berlanjut karena data tidak mencerminkan kondisi lapangan secara real time. Dari sisi pemerintah daerah, Wildan menyampaikan bahwa keterbatasan anggaran membuat kolaborasi menjadi kunci, dan data lapangan sangat penting untuk membantu pemerintah menentukan prioritas.
Saat ini, Mengalir.co telah mengumpulkan data dari 1.828 responden, memvalidasi 764 desa, dan melibatkan lebih dari 20 stakeholder aktif. Kedepannya, melalui Mengalir.co, Solar Chapter terus berkomitmen untuk memperluas cakupan wilayah pada desa-desa yang belum terdata serta melakukan pembaruan data untuk data yang sudah ada.

Sehingga, melalui keterlibatan Mengalir.co sebagai wadah awal kolaborasi multipihak yang dijalankan melalui Komitmen RAN OGI, diharapkan muncul cara baru dalam melihat masalah air: bukan hanya membangun lebih banyak, tetapi juga memastikan sistem yang sudah ada tetap berfungsi. Platform ini membantu menghubungkan data, program pemerintah, NGO, dan CSR agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dan lebih tepat sasaran.
Sebagai penutup, diskusi dalam rangkaian Open Gov Week 2026 ini menegaskan bahwa tantangan layanan air bersih di Nusa Tenggara Timur tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan data yang terbuka, terhubung, dan diperbarui secara berkelanjutan. Melalui Mengalir.co sebagai wadah kolaborasi multipihak, Solar Chapter bersama para mitra mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, NGO, dan sektor lainnya agar setiap intervensi dapat lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.







Komentar